
Palangka Raya, INTROGATOR.com – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB (DP3APPKB) Provinsi Kalimantan Tengah, Linae Victoria Aden mengatakan, selama 2025 telah terjadi sebanyak 414 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Bentuk kekerasan yang terjadi tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikis korban. Ini tentu menjadi perhatian bagi kami,” katanya, Minggu (13/1/26).
Dari sisi sebaran wilayah, Kabupaten Kotawaringin Barat tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 88 kasus, terdiri atas 63 kasus terhadap anak dan 25 kasus terhadap perempuan.
Selanjutnya Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 64 kasus, Kota Palangka Raya 43 kasus, Barito Selatan 42 kasus, Kapuas 37 kasus, dan Katingan 34 kasus.
“Penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah saja, tetapi juga masyarakat juga harus memberikan perhatian, karena ini berpengaruh pada pendidikan karakter anak, khususnya jika korbannya anak dan perempuan,” ucapnya.
Linae juga mendorong masyarakat untuk tidak ragu melaporkan setiap bentuk kekerasan yang dialami atau diketahui.
Dia menekankan, meningkatnya angka laporan justru menunjukkan tumbuhnya kesadaran masyarakat, bukan berarti kasus kekerasan bertambah.
“Kita berharap masyarakat berani speak up. Ketika masyarakat berani melapor, data memang terlihat meningkat, tetapi itu bukan pembenaran. Ini justru menjadi dasar bagi kami untuk melakukan upaya pencegahan,” ujarnya.
Linae juga mengucapkan, pihaknya berupaya melakukan langkah pencegahan, seperti mengintensifkan sosialisasi dan edukasi agar masyarakat memahami batasan perilaku yang termasuk kategori kekerasan.
Berdasarkan data DP3APPKB, kekerasan seksual menjadi jenis kasus yang paling dominan.
Linae menilai persoalan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari pola asuh keluarga hingga lingkungan pendidikan.
“Kekerasan seksual ini tidak bisa hanya dikaitkan dengan lingkungan pendidikan atau keluarga saja, karena semuanya saling terkait. Pembinaan karakter dimulai dari pola asuh keluarga, lalu dilanjutkan di dunia pendidikan,” demikian Linae.Tim



